Be Kind... Always


Just let go

“Do everything with a mind that lets go. 
Don’t accept praise or gain or anything else. 
If you let go a little you will have a little peace; 
if you let go a lot you will have a lot of peace; 
if you let go completely you will have complete peace. ”

~ Ajahn Chah

stop trying to fix yourself; you're not broken


None of us wants suffering; we all want happiness, but...

None of us wants suffering; we all want happiness. But in fact happiness is just a refined form (bentuk halus) of suffering. You can compare happiness and unhappiness to a snake. The head of a snake is unhappiness, the tail is happiness. The head of the snake is really dangerous, it has the poisonous fangs. if you touch it, the snake will bite straight away. But never mind the head; even if you grab hold of the tail, it'll turn around and bite you just the same, because both the head and the tail belong to the snake.

In the same way, both happiness and unhappiness, or pleasure and sadness, arise from the same source - wanting. So when youre happy, your mind isnt peaceful. It really isnt! For instance (contoh), when we get the things we like, such as wealth, prestige, praise, or happiness, we are pleased. But the mind still harbors (mengandung/menyembunyikan) some uneasiness (kegelisahan/ketidaknyamanan) because we're afraid of losing it. That very fear isnt peaceful state. Later on we may actually lose that thing and then we really suffer.

Thus, even when youre happy, suffering is imminent (dekat/sebentar lagi) if youre arent aware. It's just the same as grabbing the snake's tail - if you dont let go it will bite. So whether it's the snake's tail or its head, that is, wholesome or unwholesome conditions, theyre all just characteristics of the Wheel of Existence, of endless change.


 

PENGENALAN DIRI

Tanpa pengenalan diri, apa pun yang Anda lakukan, tidak mungkin ada keadaan meditasi.

Yang saya maksud dengan ‘pengenalan diri’ adalah menyadari setiap pikiran, setiap suasana batin, setiap kata, setiap perasaan; menyadari kegiatan batin Anda -- bukan menyadari diri tertinggi, Aku yang luhur, tidak ada itu; diri yang lebih tinggi, atman, masih berada di dalam lingkup pikiran.

Pikiran adalah hasil keterkondisian Anda, pikiran adalah respons ingatan Anda -- ingatan nenek moyang atau ingatan belum lama berselang. Dan sekadar mencoba bermeditasi tanpa lebih dulu menegakkan secara mendalam, sehingga tak tercabut kembali, kebajikan yang datang dari pengenalan diri adalah sama sekali menyesatkan dan sama sekali tak berharga.

Mohon diperhatikan, ini sangat penting bagi mereka yang serius untuk memahami ini. Oleh karena jika Anda tidak dapat melakukannya, maka meditasi Anda dan kehidupan sehari-hari Anda tercerai, terpisah -- begitu jauh terpisah sehingga sekalipun mungkin Anda bermeditasi, duduk bersila terus-menerus, sepanjang sisa hidup Anda, Anda tidak akan melihat lebih jauh dari hidung Anda; sikap tubuh apa pun yang Anda ambil, apa pun yang Anda lakukan, tidak akan berarti sama sekali.
 

Penting dipahami apa pengenalan diri ini: sekadar sadar, tanpa memilih sedikit pun, akan sang ‘aku’ yang bersumber pada seonggok ingatan -- sekadar menyadarinya tanpa menafsirkan, sekadar mengamati gerakan batin.

Tetapi pengamatan itu terhalang bila Anda mengumpulkan melalui pengamatan: apa yang harus dikerjakan, apa yang tak boleh dikerjakan, apa yang harus dicapai; jika Anda lakukan itu, Anda mengakhiri proses yang hidup dari gerakan batin sebagai diri. Artinya, saya harus mengamati dan melihat faktanya, yang aktual, apa adanya.

Jika saya mendekatinya dengan sebuah gagasan, dengan sebuah opini -- misalnya, “saya harus begini”, atau “saya tidak boleh begitu”, yang adalah respons ingatan -- maka gerakan dari apa adanya akan terhalang, terbendung; dan oleh karena itu, tidak terjadi belajar.

J Krishnamurti
Buku Kehidupan: Pengenalan Diri
28 Januari

There is no path to happiness. Happiness is the path


baik dan buruk cuma ada di pikiran. pada kenyataannya tidak ada

KRISTIANA TRIASTUTI:
mf pak apakah standar baik buruk, menurut anda? terimakasih.


HUDOYO HUPUDIO:
Baik & buruk itu cuma ada di pikiran. 

Tidak ada baik & buruk dalam kenyataannya di luar pikiran.

Sama saja dengan:
benar & salah;
boleh (halal) & tidak boleh (haram);
indah & jelek;
semuanya cuma ada di pikiran. 


[dari wall FB]

The moment you change your perception, is the moment you rewrite the chemistry of your body


CONTOH MENYADARI KE DALAM

"Sebagai satu contoh:
kalau Anda mempunyai pembantu…
atau mempunyai anak…
atau pembantu setia…
belasan tahun setia...
suatu hari mencuri.
Sebagai orang yang mengerti meditasi…
sebagai orang yang mengerti Dhamma…
reaksi harus kemari dulu [menunjuk dada]…
Begitu Anda mendengar anak Anda atau pembantu Anda
mencuri...
apa yang timbul di dalam...
tidak senang... marah... jengkel... penasaran... tegang...
sadari dulu... sadari... sadari...
dengan menyadari secara netral...
maka itu menjadi rileks...
"Apa anak itu, pembantu itu, tidak perlu dinasehati? Apa
dibiarkan dia berbuat begitu? Itu kan buruk..."
Ya... dinasehati... nanti...
tapi respon kemari dulu.. [menunjuk dada]
Kalau Anda tidak merespon kemari...
langsung ke sana... [menunjuk ke luar]
apa yang timbul?...
"Wah, kurang ajar sekali... tidak tahu budi... sudah jadi
buruk... setan mana yang masuk ke pikiran dia...
Dia tidak ingat berapa tahun kami rawat… dsb dsb..."
Kemudian Anda memanggil…
kemudian Anda menasehati...
Orang mengatakan, "Pak, Bu, jangan marah"...
"Aku tidak marah!"...

Nasehat itu menjadi alat untuk melampiaskan kemarahan
Anda...
karena Anda tidak melihat ke dalam dulu...
Dhamma, meditasi meminta kita melihat ke dalam dulu,
bagaimana reaksi Anda begitu Anda mendengar pembantu
Anda, anak Anda mencuri...
tidak senang... jengkel... kebencian... dsb
sebagai objek meditasi...
Anda menemukan objek meditasi...
Sebetulnya tidak usah menemukan saat itu,
tiap saat kita punya objek meditasi banyak...
Begitu disadari... disadari... kemudian menjadi tenang...
baru dinasehati...
nasehat Anda akan keluar dengan cinta kasih...
Cinta kasih tidak usah ingat, "O, metta dulu... baca karaniya-
metta-sutta dulu... baru kasih nasehat"...
Tidak!...
Begitu pikiran Anda tenang, tenteram, bersih dari kotoran
batin...
yang keluar ini otomatis cinta kasih...
Ingin memperbaiki dia...
bukan ingin melampiaskan kemarahan."

[Dari ceramah Sri Pannyavaro Mahathera bersama Sayadaw U Tejaniya di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, 28 Oktober, 2010: e-book #13, "Dapatkah Penderitaan Berakhir, Sekarang?", dari situs MMD, http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_download_ebooks.html]

Hakikat Pikiran

Saya selalu menekankan sifat2 pikiran sebagai berikut:

Definisi 'pikiran': "tanggapan terhadap rangsangan/objek yg datang dari luar (melalui pancaindera) dan yg datang dari dalam (ingatan dari masa lampau)."

Ada sekurang2nya 5 sifat pikiran yg perlu diketahui:

(1) Pikiran menggunakan kata2/bahasa; jadi satu kata, mengenali sesuatu dsb adalah pikiran.

(2) Pikiran selalu terbatas, terkondisi (oleh masa lampau), dan subjektif (tidak ada pikiran yg sepenuhnya objektif).

(3) Pikiran menciptakan 'dualitas psikologis' (benar/salah, boleh/tidak-boleh, baik/buruk, indah/jelek) yg tidak ada dalam kenyataannya di luar pikiran.

(4) Pikiran menciptakan aku/diri/ego/kramadangsa, yg tidak ada dalam kenyataannya di luar pikiran.

(5) Pikiran menciptakan waktu (masa lampau & masa depan) yg tidak ada dalam kenyataannya di luar pikiran.

Jadi: di satu sisi, pikiran sangat penting untuk survival individu manusia, dan telah menghasilkan kecanggihan teknologi material masa kini; tetapi di sisi lain, pikiran adalah sumber konflik dan penderitaan di dalam batin dan di masyarakat.

Pikiran dapat memahami kebenaran2 material; tetapi pikiran tidak dapat memahami kebenaran spiritual. Untuk sampai pada kebenaran yg hakiki, pikiran dan aku/diri harus berhenti/padam.

[Hudoyo Hupudio]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...