Nothing exists except opinion.


be free from delusions


don't expect anything


Anda tak pernah mengenal “saya”

Kita bukanlah nama kita. Apapun nama kita, seberapa semerbakpun nama itu kita buat, kita tetap bukan nama itu. Nama itu memang kita akui sebagai kepunyaan kita, nama kita —yang sebetulnya hanya untuk menamai jasad-kasar ini, untuk membedakannya dengan jasad-jasad kasar lainnya; sejauh kita merasa memiliki tubuh yang kita kenakan ini, kita juga mengenakan nama itu; akan tetapi, sekali lagi, kita bukanlah nama itu.


Buat saya, Anda adalah Anda; dinamai apapun tubuh Anda itu, Anda tetap bukan nama itu. Demikian juga halnya dengan saya. Anda bisa saja mengenal nama dari tubuh ini, tapi Anda tak pernah mengenal “saya”. Yang selama ini Anda anggap sebagai “saya” itu hanyalah citra yang Anda bentuk sendiri tentang “saya”. Seperti apapun citra itu, tetap bukan “saya”. Anda hanya mungkin mengenal “saya”, kalau Anda adalah “saya”, yakni bilamana Anda telah mengenal apa atau siapa sesungguhnya “Anda”; yang jelas, bukan sekedar tataran fisikal-biologis Anda, atau tataran mental-psikologis Anda, atau tataran spiritual Anda sekalipun. Semua itu hanyalah lapis-lapis busana yang Anda kenakan, yang Anda sandang dalam kelahiran Anda sekarang ini. Semua itu ... bukan Anda.

Dan, apapun yang saya rasa saya kenali sebagai Anda, hanyalah citra yang saya bentuk tentang Anda. Citra itu, seberapa rincipun itu adanya, betapa mendekatipun itu adanya, tak pernah adalah Anda. Begitu pula sebaliknya.

Menyadari fakta ini, seseorang akan menyadari betapa semunya pembentukan “citra-diri” yang selama ini diperjuangkannya. Padahal, ia sendiri tak mengenal siapa ia adanya, dan malah ikut-ikutan menyangka kalau dia adalah citra-citra yang dibuat orang-orang atas dirinya dari upaya pencitraan-diri —baik sengaja maupun tak sengaja— yang ia lakukan selama ini. Apa yang sesungguhnya terjadi pada orang itu adalah, tertipu oleh ulahnya sendiri, oleh pencitraan-dirinya sendiri. Sedemikian piawainya si diri ‘menyamarkan’ dirinya di balik berbagai citra-citra itu, sehingga ia sendiri tidak tahu siapa atau apa ia adanya.


Apa yang disebut orang-orang sebagai ‘jati-diri’ Andapun bukanlah Anda. Itu hanya dirujukkan pada ‘kepribadian’ Anda. Jati-diri Anda, bukan Anda. Itu hanyalah apa yang Anda sandang selama ini. Anda yang sejati, yang seperti ‘apa adanya’, hanya Anda sendirilah yang wajib mengetahuinya. Saya bisa saja mengatakan bahwa Anda adalah ini atau itu, tapi itu hanya bagi saya. Saya, atau Guru Anda sekalipun, tak bisa melakukannya untuk Anda; beliau hanya bisa membimbing Anda ke arah itu.

AKU biang penderitaan

Sebab Penderitaan
oleh YM. Bhante Sri Pannavaro Mahatera


Para ibu, bapak dan saudara-saudara,

Saya akan berbicara dengan topik yang lebih mendalam tidak hanya
dasar. Mendengarkan Ajaran Buddha agak berbeda dengan mendengarkan
uraian-uraian lain, tetapi mendengarkan Ajaran Buddha, uraian-uraian
Agama Buddha yang disebut Dhamma sebetulnya tidak begitu mendengar
lalu mengerti secara intelektual dalam bahasa jawa secara nalar.
Tetapi mendengarkan uraian Dhamma itu seperti mendengar, kemudian
merefleksikan ke dalam. Dalam bahasa yang mudah merefleksikan itu
mencocokkan dengan kehidupannya sendiri yang dialami sendiri. Sehingga
saya sering mengatakan mendengarkan uraian Dhamma atau uraian ajaran
Buddha Gautama itu guru agung seperti bercermin.

Kalau ibu atau saudari ulang tahun, ulang tahun perkawinan ada kenalan
yang baik sekali yang dulu pernah mendapatkan jasa, pernah ditolong
datang memberikan kado gelang tretes ( berlian ) betulan bukan
imitasi. Pertanyaan saya adalah bagaimana reaksi ibu atau saudari,
Senang Apa tidak senang?
Senang….
Tidak usah di pikir karena itu saya mengatakan jangan mikir, karena
kalo mikir malah nanti jawabannya itu nanti tidak tulus. Orang pinter
biasanya… Senang apa tidak ya???

Itu kalo wanita, kalo pria mungkin mendapatkan hadiah jam dari Swiss.
Kalo anda mendapatkan kado jam dari Swiss asli, apalagi yang
memberikan teman baik yang bisa dipercaya.
Bapak atau saudara senang apa tidak senang?
Senang….

Ibu, bapak dan saudara
Pertanyaan saya adalah kalo gelang tretes itu datang di sini, kalo jam
dari swiss itu datang di sini. Menjadi hadiah saudara.
Saudara senang apa tidak senang?
Senang bhante…

Dimana letaknya senang itu?
Di sini….? ( sambil menunjukan dada / hati )
Apa di sini? ( sambil menunjukkan gelang atau jam )

Dimana yang merasakan senang itu?
Di sini ( sambil menunjukan dada / hati )

Gelang dan jam adalah benda mati. Meskipun gelang mahal bertabur
berlian dan Jam mahal. Di kedua benda itu tidak ada senang.

Di dalam bahasa yang kasar: Loh yang merasakan senang di sini koq (
sambil menunjukkan dada/ hati ) yang senangnya di sini… bukan di
situ ( di gelang atau jam ).

Suatu ketika kondangan lalu gelangnya dipakai, tetapi karena sesuatu
hal waktu pulang berliannya itu copot beberapa butir. Dilihat bolong (
berlubang ), entah kecantol tas ( tersangkut ), entah kecantol pakaian
( tersangkut pakaian ). Atau jam swiss yang mahal itu jatuh… kepijek
( terinjak ) pecah.

Kalo mata berliannya itu hilang, jamnya itu pecah, riek ( hancur ).
Ibu, bapak bagaimana reaksinya?
Senang apa tidak senang?
Tidak senang bhante…

Dimana letaknya tidak senang itu?
Letaknya tidak senang itu di jam yang riek ( hancur ) / gelang yang
berlubang berliannya atau di sini ( sambil menunjuk dada/hati )?
Jawabannya: Di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).

Oleh karena itulah menurut guru Agung Buddha Gautama, yang membuat
kita senang atau tidak senang, yang membuat kita menderita, yang
membuat kita susah. Semuanya itu muncul di dalam dan dari dalam diri
kita ini! Tidak ada sangkut pautnya yang ada di luar!

Karena kalo kita susah, sedih di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Kalo kita senang, gembira juga di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Tidak di luar….!!!!

Tetapi kalo ibu bapak ada yang kritis, bisa bilang. Ya bhante sedih di
sini ( sambil menunjuk dada/hati ), gembira juga di sini ( sambil
menunjuk dada/hati ). Tapi jalarannya kan di luar bhante. Kalo saya tidak mendapat gelang tretes ( berlian )/jam, kita kan tidak bisa
ujug-ujug ( tiba-tiba ) senang. Karena gelang tretes saya senang,
karena jamnya rusak saya menderita.
Jalarannya kan yang di luar juga bhante…. tidak hanya di dalam (
sambil menunjuk dada/hati ).

Betul? Ibu, bapak dan saudara?
Kelihatannya betul…. tapi tidak betul.

Apa betul kalo ada gelang tretes, ada jam datang lalu kita menjadi senang?
Iya bhante… kalo gak ada gelang atau jam, mana bisa kita menjadi senang.
Iya kalo gelang atau jam itu datang ke pak Budi, kalo gelang atau jam
itu datang ke pak Joni…
Pak Budi senang tidak?
Tidak senang…

Loh mengapa tidak senang?
Jamnya ke sana ( sambil menunjukkan ke Pak Joni ), bukan ke sini (
sambil menunjukkan ke Pak Budi ).

Katanya kalo ada jam atau gelang tretes senang….
Ini ada jam ada gelang tretes tapi pergi ke sana, tidak ke sini. (
pergi ke orang lain tidak ke saya ).
Saya senang atau tidak?
Tidak…

Kenapa gak senang bhante? Karena gelang dan jamnya ke situ koq bukan ke sini.

Kenapa dia susah, sedih?
Gelangnya hilang bhante… tidak hanya berliannya yang copot tapi
hilang. Lupa naruh entah kemana. Pembantu entah siapa ambil.
Jadi yang membuat dia menderita itu apa?
Yang membuat dia menderita itu ya.. gelangnya yang hilang atau jamnya
yang riek ( hancur ) terinjak.

Apa betul???
Kalo yang hancur itu, yang hilang itu gelangnya atau jamnya orang lain
saya tidak menderita…
Jadi ibu bapak dan saudara, apa sebab yang membuat menderita ini?
Yang membuat menderita itu adalah jam-KU, gelang-KU. Itulah yang
membuat menderita. AKU…

Karena kalau jamnya dia, gelangnya dia… aku tidak menderita.
Kalo jamnya atau gelang anaknya, dia ikut menderita
Kalo jamnya atau gelangnya temannya, dia sedikit menderita.
Kalo jamnya atau gelangnya orang lain yang kita tidak kenal… Oh….
sama sekali tidak menderita!

Mengapa?
Karena bukan jam-KU, bukan gelang-KU, bukan jamnya anak-KU, bukan
gelangnya anak-KU. Gelang dan jamnya milik orang lain, Aku tidak
kenal…. maka tidak menderita.

Berhati-hatilah dengan AKU ibu, bapak dan saudara.
Itu yang membuat kita menderita……

Mengapa bisa menderita bhante?
Karena terlalu lengketnya, terlalu senangnya, terlalu besarnya
AKUnya…. maka dia menderita.
Berharga, mahal, milyaran
Tetapi barang yang sama yang berharga, mahal, milyaran
Kalo ini rusak tetapi bukan milik-KU….. AKU tidak apa-apa…. tenang
.. tentram.

Jadi sang AKU-lah

Apa yang saya sampaikan ini adalah The Fact of Life…, The Truth….,
Kesunyataan Hidup.
Saudara tidak perlu mendengar uraian saya, lalu meng-iya-kan, tetapi
saudara bisa mencocokkan apa yang saudara pernah alami ibu, bapak
sekalian dalam kehidupan sehari-hari.
Benar… Tidak???

Ibu, bapak dan saudara jangan sepelekan AKU.
Ada orang mengatakan.. Ah… bhante.. AKU kan bukan kejahatan toh..,
paling kalo AKU-nya besar itu hanya akan dikatakan: Orang koq
Sombong-Sombing banget….!!! Arogan….
Paling kan hanya dikatakan begitu… kan bhante…

Kalo ada upacara pasti ingin minta duduk di depan…
Kalo suatu ketika yang terima tamu tidak mengerti lalu didudukkan di
belakang sana…
AKU di suruh duduk di belakang sana???
AKU ini … jasaku ini tidak dihargai.. Itu orang tidak tahu AKU ini siapa???

Saya pernah diberitahu seorang bhikkhu, Oh… dia bukan pemimpin bhante…
Kalo orang seperti itu adalah pemuka bukan pemimpin.
Koq bisa???
Dia ingin duduk di muka.. kelihatan di muka..
Oh beda ya.. pemuka sama pemimpin…
Oh ya… beda bhante… ( joke )

Jangan Meremehkan ke-AKU-an ibu, bapak dan saudara…

Ke-AKU-an punya anak… Anaknya ke-AKU-an adalah:

Kalo dia senang..
AKU ingin senang lagi.. AKU ingin senang terus.. AKU ingin senang yang
lebih banyak..
*KESERAKAHAN….. ( Anaknya ke-AKU-an itu keserakahan ).
Kalo dia untung..
AKU ingin untung terus.. AKU gak mau rugi.. tidak ada pedagang yang mau rugi.
AKU ingin sukses terus..
AKU ingin sehat terus..
Kalo sudah tua, AKU ingin tua terus.. Loh koq bisa bhante? Siapa yang
ingin mati? Kalo sudah terlanjur tua kan, AKU ingin tua terus..
( Itu KESERAKAHAN)

dan

Kalo tidak senang..
**KEBENCIAN muncul pada saat keserakahan tidak mendapatkan pemenuhan.

Tetapi kalo kesenangannya mendapatkan pemenuhan… Oh.. KESERAKAHAN-nya membara-bara.


Nanti kalo gagal bagaimana?
Kalo gagal dia bisa kecewa… Jengkel… Bisa-bisa marah.
Tidak senang pada yang maju… Tidak senang pada yang berhasil..
Itu anaknya KEBENCIAN…

Jadi sang AKU punya anak KEBENCIAN dan KEBENCIAN punya anak “SENANG
MELIHAT ORANG LAIN GAGAL / MEMBALAS DENDAM”

Anaknya KESERAKAHAN apa? Anaknya KESERAKAHAN ” IRI HATI / TIDAK SENANG
MELIHAT ORANG LAIN SUKSES”

Itu semua adalah keturunan AKU.
Sang AKU mempunyai anak ingin… ingin.. ingin… lagi.. lagi.. lagi..
( KESERAKAHAN ), terhalang marah maka kebencian muncul.. kekejian
muncul.. kejahatan muncul.
Semuanya lahir dari sang AKU. Sang AKU mempunyai anak.. beranak -
pinak.. ( berkembang biak ) melahirkan kejahatan-kejahatan.

Ibu, bapak dan saudara…. ibu bapak bisa memahami ya.. yang saya uraikan..
Sang AKU sangat berbahaya dan sebab penderitaan itu adalah sang AKU.
Tidak ada sangkut pautnya dengan yang di luar sama sekali!!!
Apapun yang di luar terjadi jungkir-terbalik, kalo sang pikiran (
AKU-nya ) terkendali… anda tidak perlu menderita.

Bhante saya mendengar penderitaan itu.. terjadi karena karma-karma
buruk berbuah. Dulu kita melakukan / berbuat yang buruk-buruk..
melakukan karma buruk.. lalu berbuah.. buahnya karma buruk katanya
penderitaan. Buah karma baik katanya kebahagiaan.
Jadi penderitaan itu bukan akibat dari perbuatan yang buruk / akibat
karma yang buruk bhante?
BUKAN…. saudara…

Saudara yang sudah menjadi umat Buddha sudah lama, pernah mendengar toh..?
Empat Kesunyataan Mulia:

1. Ada Dukha

2. Apakah Sebabnya Dukha? Apakah sebabnya dukha di sebut akibat karma
buruk berbuah maka membuat kita menderita ( Dukha ). TIDAK….
Sebabnya dukha adalah Tanha. Apakah Tanha itu? KEINGINAN yang luar
biasa. Darimana datangnya Tanha.. sang AKU. Sang AKU ingin lagi..
ingin lagi.. ingin lagi… Kalo tidak senang ingin menghancurkan..
ingin menyingkirkan terus.. terus.. terus.. sampai
tidak menghalangi AKU lagi.

Jadi bhante kalo perbuatan buruk / karma buruk kita berbuah, itu kita
tidak menderita?
Terserah saudara.. saudara mau menderita atau tidak menderita!!!
Jadi kalo karma buruk kita berbuah, apa kita mesti menderita bhante?
TIDAK… Tergantung pada kita. Pada yang di dalam ini… mau menderita
atau tidak… tergantung yang di dalam. Tidak tergantung akibat yang
muncul.

Dari cerita ini lagi… ibu bapak bisa melihat. Tidak ada hubungannya
kesusahan, ketegangan, penderitaan itu dengan yang di luar ini. Tidak
ada sangkut pautnya!!!
Susah, menderita, sengsara itu karena ” KITA SENDIRI SEPENUH-PENUHNYA”
Karena apa bhante?
Karena sang AKU kita biarkan….
Jangan main-main dengan sang AKU.. bukan masalah persoalan sombong-sombing saja.
Berbahaya.. ia menjadi biang penderitaan…

Baik.. paragraph pertama, chapter pertama saya tutup…

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151496215586805&set=a.420826151804.198813.300530356804&type=1

i'm not to fit into your world


Jangan balik benci sama mertua, rugi... sumfah...

Sumfah, ane zuzur, jangan balik benci sama mertua ketika mertua membenci ente. rugi...

Memang seringkali ada keinginan untuk membalas, tapi ketahuilah bahwa rasa benci dan dongkol mertua pada ente, itu sudah cukup membuat dia menderita. Dengan kata lain, tidak dibalas pun dia udah menderita.

Emang enak dilanda rasa marah benci dan dongkol. Cukuplah mertua yang dilanda perasaan tersebut, ente jangan ikut-ikutan, rugi, kenapa? karena rasa adalah segalanya.

Keep smile and go on,

[Pepatah ini ane buat khusus untuk teman ane yang mertuanya agak gitu deh....]

When Ego is Lost


Catatan:

Banyak orang yang berusaha menghilangkan ego dirinya sendiri dengan motif terselubung, yaitu motif mencari kebahagiaan.
Nah, inilah nerakanya. Harapan akan kebahagiaan.

Life isn't about pleasing everybody, be happy


PARA PENCIUM BOKONG

Suatu pagi pintu rumah saya diketuk orang. Waktu saya buka ada seorang lelaki muda berjenggot ditemani perempuan berparas cantik dan mereka berpakaian rapi. Si lelaki berbicara lebih dulu:

Arif: “Salam sejahtera! Kenalkan, nama saya Arif dan ini saudari Dedeh”

Dedeh: “Salam! Kami datang untuk menyampaikan kabar gembira. Kami mengundangmu untuk bersama-sama mencium bokong Burhan!”

Saya: (terkesiap) “Apaaa?! Kalian ngomong apa, sih? Burhan itu siapa? Buat apa saya cium bokongNya?”

Arif: “Kalau kamu cium bokong Burhan, Dia akan kasih kamu 10 Trilyun Rupiah; tapi kalau kamu nggak mau, Dia akan menghajarmu.”

Saya: “Hmmm…. Ini proyek cuci uang hasil ngerampok nasabah Citipubank yang lagi heboh itu ya?”

Arif: “SALAH! Gini, ya. Burhan itu super kaya dan sangat baik hati. Dialah yang memiliki kota ini. Dia mampu membuat apapun yang Dia mau, dan Dia ingin berbagi kekayaan, keselamatan dan kebahagiaan dengan setiap orang. Tapi kamu harus mencium bokongNya dulu.”

Saya: “Iiih… Aneh banget. Kok gitu sih?!”

Dedeh: (memotong) “Hey, kamu siapa berani-beraninya meragukan Burhan?! Kamu nggak mau dapat 10 Trilyun?! Itu imbalan luar biasa untuk mencium bokong!”

Saya: “Ya… Menarik, sih. Tapi…”

Arif: “Kalau begitu ayo cium bokong Burhan bersama kami!”

Saya: “Sebentar… Kalian sering mencium bokong Burhan?”

Arif: “Tentu, sesering mungkin!”

Saya: “Terus? Kalian sudah dapat uang trilyunannya?”

Arif: “Ya belum, dong. Aturannya gini: uangnya nggak bakal dikasih sebelum kita pergi dari kota ini.”

Saya: “Lantas kenapa sekarang kalian nggak pergi-pergi?”

Dedeh: (berusaha menjelaskan) “Kita nggak bisa pergi sebelum disuruh Burhan. Kalau nekat pergi sebelum waktunya, kita nggak dapat uangnya dan Burhan akan menghajar kita.”

Saya: “Oooh, gitu ya? Kalian kenal orang yang sudah menciumi bokong, pergi dari sini, terus dapat uang itu?”

Arif: “Ibu saya menciumi bokong Burhan selama bertahun-tahun. Tahun kemarin beliau pergi meninggalkan kota seizin Burhan, dan saya yakin beliau sedang senang-senang dengan uangnya sekarang.”

Saya: “Sejak ibumu pergi kamu pernah kontak dengan beliau?”

Arif: “Nggak, lah! Dilarang Burhan.”

Saya: “Terus, gimana kamu bisa yakin Burhan benar-benar memberi uangNya jika kalian nggak pernah ngobrol dengan siapapun yang pernah mendapatkannya?”

Dedeh : “Sebenarnya, sedikit-sedikit Burhan sudah memberi ke kita sebelum kita pergi. Kadang gaji kita naik, atau kita menang arisan, atau sekadar nemu duit di jalan.”

Saya: “Lho, apa hubungannya sama Burhan?”

Arif: “Burhan itu punya semacam ‘hubungan’. Dia seperti dalang agung dibalik berbagai keberuntungan yang biasa kita anggap sebagai kebetulan”.

Saya: “Mohon maaf, tapi itu seperti otak-atik gathuk yang kelewat maksa.”

Arif: “Saudaraku, ini 10 Trilyun lho! Ini kesempatan bagus! Dan ingat, jika kamu nggak mau cium bokongNya, Dia akan menghajarmu, mengazabmu!”

Saya: “Aduh… Gini aja deh. Kalau kamu ketemu langsung sama Burhan, tolong minta penjelasan detailnya. Gitu kan lebih enak.”

Arif: “Oooo… Nggak bisa. Burhan itu tak terlihat dan nggak bisa diajak ngobrol.”

Saya: “Lha terus gimana mau cium bokongNya kalau ketemu saja nggak bisa?!”

Arif: “Kadang-kadang kami sun jauh sambil membayangkan bokongNya. Atau kami cium bokong Pak Teguh, dan beliau yang nantinya menyampaikan ciuman itu.”

Saya: “Bokong Pak Teguh? Siapa pula Pak Teguh itu?!”

Dedeh: “Beliau itu teman dan guru pembimbing kami. Berkat beliau, kami paham bagaimana cara mencium bokong yang baik dan benar. Tanpa harus bayar mahal, cukup mengamplopi seikhlasnya saja.”

Saya: “Dan kenapa kalian sangat percaya pada ucapan Pak Teguh yang berkata bahwasanya ada Burhan yang menginginkan kalian mencium bokongNya dan akan memberi uang?”

Arif: “Karena Pak Teguh sudah berpuluh-puluh milennium memegang selembar surat dari Burhan yang menjelaskan segalanya. Ini saya punya salinannya, silahkan dibaca.”

Keterangan Resmi dari Teguh

    Ciumlah bokong Burhan dan Dia akan memberimu 10 T saat kamu meninggalkan kota
    Gunakan alkohol seperlunya
    Hajarlah orang yang tidak seiman denganmu
    Makanlah dengan benar
    Burhan mendiktekan langsung surat ini
    Bumi itu datar
    Maha benar Burhan dengan segala ucapanNya
    Cucilah tangan setelah cebok
    Jangan gunakan Alkohol
    Makanlah roti tawar dengan meses, tanpa tambahan
    Ciumlah bokong Burhan, jika tidak, Dia akan murka dan mengazabmu

Saya: “Kok kepala suratnya atas nama Pak Teguh?”

Dedeh: “Ya memang! Burhan yang mendikte, Pak Teguh yang menulis.”

Saya: “Katanya nggak ada yang bisa lihat Burhan? Kenapa Pak Teguh bisa?”

Dedeh: “Sekarang sih nggak. Tapi duluuu sekali Burhan bicara langsung pada beberapa orang.”

Saya: “Hooo… Oke. Eh, tadi kamu bilang, Burhan itu penuh kasih. Tapi penuh kasih gimana jika Dia bakal menghajar orang yang tak mau mencium bokongNya?! Kasih macam apa yang menghajar orang yang berbeda pendapat?”

Dedeh: “Burhan bebas berkehendak, Dia selalu benar.”

Saya: “Kenapa bisa gitu?”

Dedeh: “Mari buka mata, ayo buka hati. Bacalah ayat ke-7. Di situ disebutkan dengan sangat jelas ‘Maha benar Burhan dengan segala ucapanNya’ dan itu sudah cukup!”

Saya: “Jangan-jangan isi surat itu hanya khayalan Pak Teguh saja.”

Arif: “Saudaraku, jangan biarkan prasangka buruk menggelapkan hati kita. Kan sudah jelas, di ayat ke-5 dikatakan bahwa Burhan mendiktekanNya sendiri. Lagi pula, ada banyak hal yang membuktikan kebenaran surat suci ini. Misal, ayat 2, ‘gunakan alkohol seperlunya’, ayat 4 ‘makanlah dengan benar’ dan ayat 8 yang menganjurkan cuci tangan setelah cebok. Anak kecil juga tahu bahwa itu semua adalah anjuran yang baik dan benar, dan itu bukti bahwa semua yang disampaikan lembar suci ini adalah kebenaran!”

Saya: “Tapi ayat 9 melarang alkohol dan nggak sejalan dengan ayat 2. Dan di ayat 6, bumi datar. Plis deh. Bumi itu bulat.”

Arif: “Saudaraku, ayat 2 dan 9 itu justru saling menerangkan. Dan soal datarnya bumi, apa sudah pernah keliling bumi?”

Saya: “Belum sih, tapi saya pernah naik pesawat yang terbang tinggi sekali, dan dari jendela memang terlihat kalau bumi bulat.”

Arif: “Itu pasti konspirasi keji. Mungkin jendelanya sudah dipasangi LCD yang menampilkan ilusi menyesatkan. Di ketinggian itu kamu pasti belum pernah mengeluarkan kepala dari pesawat dan melihat bentuk bumi secara langsung, kan?”

Saya: “Ya belum sih.”

Arif: “Ha! Akhirnya kamu mengakui kalau kamu tidak tahu. Pengetahuan kita memang terbatas. Karenanya, yakinlah apa kata Burhan. Dia pasti benar.”

Saya: “Kenapa pasti benar?”
Arif: “Iya dong, pasti benar. Lihat lagi itu ayat  7. Jelas-jelas dikatakan begitu. Pikiran yang dipengaruhi iblis memang bikin kita pelupa.”

Saya: “Oooh… Jadi kalian yakin Burhan selalu benar karena surat suci ini bilang begitu? Padahal kita tahu Burhan sendiri yang mendiktekan karena suratnya juga bilang begitu. Ini seperti mengatakan Burhan benar karena dia bilang dirinya benar!”

Arif: “Akhirnya kamu paham juga! Menyenangkan melihat Burhan membuka hati dan menumbuhkan pemahaman!”

Saya: “Tapi itu logika berputar!!!”

Arif: (mengangkat alis) “Burhan memang keren.”

Saya: “Lho??? Tapi… Ah! Sudahlah. Terus, kenapa roti tawar harus pakai meses?”

Dedeh: (merona)

Arif: “Roti tawar, pakai meses, nggak pakai apa-apa lagi. Itulah tuntunan Burhan. Cara selain itu adalah sesat.”

Saya: “Kalau nggak ada meses?”

Arif: “Roti tawar ya harus pakai meses. Meses tanpa roti itu sesat”.

Saya: “Kalau diselipi sosis? Keju boleh?”

Dedeh: (wajahnya menjadi tegang)

Arif: (mulai berteriak) “Jangan keterlaluan! Penambahan apapun itu terlarang! Sesat! “

Saya: “Jadi kalau roti tawar tidak pakai meses tapi diganti sosis goreng, diberi saus pedas, dikasih selembar keju dan sayuran, terus dioven dulu sebentar, itu nggak boleh ya?

Dedeh: (menutup telinganya, bersenandung) “Saya nggak dengar, saya nggak dengar… la la la la la la…”

Arif: “Itu menjijikkan! Hanya antek iblis jahanam yang makan makanan seperti itu…”

Saya: “Tapi rasanya enak, lho! Saya sering makan seperti itu untuk sarapan.”

Dedeh: (jatuh pingsan)

Arif: (menangkap tubuh Dedeh yang lunglai dan membawanya masuk mobil dengan raut wajah marah lalu kembali) “Jika saja saya tahu kamu itu orang seperti itu, saya nggak bakal repot-repot! Nanti saat Burhan menghajarmu, saya akan ada disebelahNya, tertawa sambil menghitung uang yang saya dapat. Saya akan menciumi bokong Burhan untukmu, dasar kamu pemakan roti sosis panggang!”

Lalu para pencium bokong itu pun tancap gas dan menghilang.

Sumber : http://learnerwithoutborder.wordpress.com/2011/04/17/parapenciumbokong/

Love is enough


No matter what people think of you, always keep smiling and walk away


Komen Pak Hudoyo ttg MMD

"Nah, untuk selanjutnya, apa pun yg Anda alami dalam meditasi Anda, jangan dihiraukan, jangan disenangi, jangan ditakuti, jangan dituruti, jangan dilekati. Kalau Anda bisa menonton secara pasif, tanpa melibatkan diri, maka semua itu akan lenyap.
Dan Anda dapat meneruskan perjalanan Anda menyadari pikiran/aku, yg merupakan sumber penderitaan, sampai pikiran/aku itu padam sempurna."

"kalau Anda melihat sesuatu, Anda cuma melihat, tidak merasa senang, tidak merasa tidak senang, tidak memikirkannya, tidak ada keinginan/harapan apa2 berkaitan dg apa yg Anda lihat itu. Bisa dipahami?"

"Anda pernah melamun, bukan? Nah, cepat atau lambat lamunan Anda akan berhenti dengan sendirinya, bukan karena Anda yg membuatnya berhenti. Apa yg menghentikan lamunan itu?" -- " karena saya sadar.." -- ""Karena saya sadar" -- tepat sekali. Itulah sadar. Sadar itu menghentikan lamunan Anda. Tapi sadar itu muncul dg sendirinya, bukan hasil usaha Anda, bukan?
Nah, itulah yg saya maksud dg sadar secara pasif. Jangan berbuat apa2; apa pun yg muncul dalam batin, sadari saja, jangan dicampuri. Bisa dipahami?"

"Jangan bertanya tentang padamnya pikiran. Pikiran (yg belum padam) tidak akan pernah bisa memahami padamnya pikiran.
Jadi, sadari saja pikiran yg belum padam ini.
Nanti kalau pikiran bisa padam, Anda akan tahu apa itu sebenarnya."

"Kalau Anda berlatih menyadari gerak pikiran, Anda tidak lagi memikir2 dan membanding2kan dg ajaran agama, filsafat, kebatinan apa pun juga. Tetaplah pada kesadaran Anda. Jangan terseret oleh pikiran. (Ini contohnya pikiran yg menyeret)."

Nah, pahamkah Anda bagaimana harus bersikap/bertindak?

Aku tidak membaca iklan

Aku tidak membaca iklan.
Karena Aku hanya akan menghabiskan
seluruh waktuku untuk menginginkan berbagai hal.

~Frans Kafka

Apa penyebab penderitaan Anda?

Kebanyakan orang memiliki cita-cita yang sama: mencapai bahagia. Tapi, hanya sedikit yang menyadari bahwa cita-cita itu didorong oleh perasaan menderita. Akibatnya mereka hanya berkonsentrasi meraih kebahagiaan, tanpa menyadari sebab musababnya. Ibarat mengikuti lomba lari dengan garis finish sebagai tujuan, mereka tak pernah tahu di mana garis finish itu dan mengapa harus ikut lomba itu.

~ Hasbi Maulana

You are what you think

Whatever you think you are you become. Think wisely

Why Worry About It?


sekedar menjalani sisa hidup

Orang yang tidak punya ego lagi, dia sekadar hidup, tidak peduli ada atau tidak ada teknologi. Dia sekadar menjalani sisa hidupnya, tetapi dia menjadi pelita yang sangat terang bagi orang lain di sekelilingnya, tanpa sengaja ingin menjadi pelita.

~Hudoyo Hupudio

Semuanya hanya sekedar rasa

Never mind...
Pada hakikatnya tidak ada yang penting di muka bumi ini.

Bukankah susah dan senang hanyalah permainan rasa belaka? tidak lebih.

Semuanya hanya akan menjadi memory

Suka duka hari ini, jam ini, detik ini, semuanya akan berlalu dan menjadi kenangan.
Semua apa yang dialami dalam hidup ini sepersekian detik kemudian, tidak lebih hanya merupakan kenangan hanya sekedar memori.

Semuanya akan berlalu, semuanya akan berubah menjadi kenangan.

Apapun yang dialami sekarang baik suka maupun duka, tak perlulah batin menderita.

I put my money in things that make me money


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...