Apa yang kita tahu?

“Tidak tahu itu pada akhirnya akan timbul saat kita meneliti satu persatu barang atau satu persatu kejadian. Umpama meneliti satu persatu barang; betapa barang yang terkecil pun tentu masih dapat dibagi, sedang bagian terkecil itu juga masih bisa dibagi lagi. Demikian pula ketika meneliti barang yang terbesar; pun tentu masih dapat diduakalikan, sedang duakaliannya juga masih bisa diduakalikan lagi. Jadi, dalam meneliti barang yang benar-benar terkecil dan terbesar, kita pasti akan bermuara pada titik tidak tahu. Demikian pula saat meneliti suatu peristiwa, ketika bumi dan langit belum ada misalnya, apakah yang terjadi? Dan sebelum kejadian itu, apa pula yang telah terjadi? Demikian seterusnya, hingga pada akhirnya kita pasti tidak tahu. Begitu juga dalam meneliti kejadian setelah bumi dan langit lenyap misalnya, apakah yang akan terjadi? Dan setelah kejadian itu, apa lagi yang akan terjadi? Demikian seterusnya, dan pada akhirnya kita pun pasti tidak tahu. Jadi untuk mengetahui kejadian yang semula dan terakhir itu, sesungguhnya kita tidak akan pernah tahu. Tetapi jika ketidaktahuan itu kita paksakan, lantas kita pun menjadi mengira tahu, dan mengira tahu hakikatnya adalah tidak tahu. Jadi, mengira tahu sesungguhnya adalah ketidaktahuan yang dipaksakan; hanya untuk memenuhi pengharapan untuk dapat mengetahui segala hal sehingga mencari-cari tamsil, tanda-tanda, persamaan-persamaan, dan menjadikannya sebagai ilmu keyakinan jadi-jadian.”

Ki Ageng Suryomentaram
Filosof Jawa, Guru Ilmu Kawruh Begja (Ilmu Bahagia)

Derita

HUDOYO HUPUDIO:
Penderitaan adalah sifat dasar kehidupan semua makhluk.

Yg paling mendasar adalah ketakutan, kecemasan, kekhawatiran. Dan ketakutan yg paling mendasar adalah takut mati, takut tidak eksis. Perhatikan bagaimana seekor ayam mengais2 mencari makan; sebentar2 ditegakkannya kepalanya, melihat sekelilingnya, dg penuh ketakutan. Ini disebut ketakutan eksistensial, yg bersifat instinktif, yg dimiliki oleh semua makhluk, bukan hanya manusia.

Pada manusia, batinnya bukan hanya dirongrong oleh ketakutan eksistenslal, tapi berlipat ganda terdapat beraneka macam ketakutan intelektual (yg berasal dari pikiran): takut jatuh miskin, takut rugi, takut celaka, takut kanker, takut ditinggal orang yg dicintai, takut diserang orang, dst.

Kedua: ketidakpuasan, yg terkait dg keinginan dan harapan. Ini akibat konflik antara 'apa yg ada' (saat kini) dan 'apa yg diharapkan' (masa depan). Kepuasan hanya bersifat sementara, dg cepat berganti menjadi ketidakpuasan, yg lebih fundamental.

Semua itu bersumber dari pikiran dan aku/diri, yg membanding2kan, dan mengharap2 ke masa depan.

Semua itu diringkas dg satu kata PENDERITAAN.

Mereka yg terlatih menyadari batinnya, pada suatu titik akan mengalami berhentinya pikiran & lenyapnya aku/diri. Di situ ia akan mengalami sendiri KEBEBASAN (bukan berteori), sekalipun hanya untuk sementara waktu.

Dan ia langsung tahu berdasarkan pengalaman sendiri, bahwa padamnya pikiran/aku adalah pintu menuju Pembebasan terakhir.

Dan ia mengalami pula, di situ hadir sesuatu yg suci dan abadi, di situ hadir Cinta dan Kearifan, tapi itu lain sekali dari Tuhan, yg selama ini ada dalam pikirannya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...