The moment you change your perception, is the moment you rewrite the chemistry of your body


CONTOH MENYADARI KE DALAM

"Sebagai satu contoh:
kalau Anda mempunyai pembantu…
atau mempunyai anak…
atau pembantu setia…
belasan tahun setia...
suatu hari mencuri.
Sebagai orang yang mengerti meditasi…
sebagai orang yang mengerti Dhamma…
reaksi harus kemari dulu [menunjuk dada]…
Begitu Anda mendengar anak Anda atau pembantu Anda
mencuri...
apa yang timbul di dalam...
tidak senang... marah... jengkel... penasaran... tegang...
sadari dulu... sadari... sadari...
dengan menyadari secara netral...
maka itu menjadi rileks...
"Apa anak itu, pembantu itu, tidak perlu dinasehati? Apa
dibiarkan dia berbuat begitu? Itu kan buruk..."
Ya... dinasehati... nanti...
tapi respon kemari dulu.. [menunjuk dada]
Kalau Anda tidak merespon kemari...
langsung ke sana... [menunjuk ke luar]
apa yang timbul?...
"Wah, kurang ajar sekali... tidak tahu budi... sudah jadi
buruk... setan mana yang masuk ke pikiran dia...
Dia tidak ingat berapa tahun kami rawat… dsb dsb..."
Kemudian Anda memanggil…
kemudian Anda menasehati...
Orang mengatakan, "Pak, Bu, jangan marah"...
"Aku tidak marah!"...

Nasehat itu menjadi alat untuk melampiaskan kemarahan
Anda...
karena Anda tidak melihat ke dalam dulu...
Dhamma, meditasi meminta kita melihat ke dalam dulu,
bagaimana reaksi Anda begitu Anda mendengar pembantu
Anda, anak Anda mencuri...
tidak senang... jengkel... kebencian... dsb
sebagai objek meditasi...
Anda menemukan objek meditasi...
Sebetulnya tidak usah menemukan saat itu,
tiap saat kita punya objek meditasi banyak...
Begitu disadari... disadari... kemudian menjadi tenang...
baru dinasehati...
nasehat Anda akan keluar dengan cinta kasih...
Cinta kasih tidak usah ingat, "O, metta dulu... baca karaniya-
metta-sutta dulu... baru kasih nasehat"...
Tidak!...
Begitu pikiran Anda tenang, tenteram, bersih dari kotoran
batin...
yang keluar ini otomatis cinta kasih...
Ingin memperbaiki dia...
bukan ingin melampiaskan kemarahan."

[Dari ceramah Sri Pannyavaro Mahathera bersama Sayadaw U Tejaniya di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, 28 Oktober, 2010: e-book #13, "Dapatkah Penderitaan Berakhir, Sekarang?", dari situs MMD, http://meditasi-mengenal-diri.org/mmd_download_ebooks.html]

Hakikat Pikiran

Saya selalu menekankan sifat2 pikiran sebagai berikut:

Definisi 'pikiran': "tanggapan terhadap rangsangan/objek yg datang dari luar (melalui pancaindera) dan yg datang dari dalam (ingatan dari masa lampau)."

Ada sekurang2nya 5 sifat pikiran yg perlu diketahui:

(1) Pikiran menggunakan kata2/bahasa; jadi satu kata, mengenali sesuatu dsb adalah pikiran.

(2) Pikiran selalu terbatas, terkondisi (oleh masa lampau), dan subjektif (tidak ada pikiran yg sepenuhnya objektif).

(3) Pikiran menciptakan 'dualitas psikologis' (benar/salah, boleh/tidak-boleh, baik/buruk, indah/jelek) yg tidak ada dalam kenyataannya di luar pikiran.

(4) Pikiran menciptakan aku/diri/ego/kramadangsa, yg tidak ada dalam kenyataannya di luar pikiran.

(5) Pikiran menciptakan waktu (masa lampau & masa depan) yg tidak ada dalam kenyataannya di luar pikiran.

Jadi: di satu sisi, pikiran sangat penting untuk survival individu manusia, dan telah menghasilkan kecanggihan teknologi material masa kini; tetapi di sisi lain, pikiran adalah sumber konflik dan penderitaan di dalam batin dan di masyarakat.

Pikiran dapat memahami kebenaran2 material; tetapi pikiran tidak dapat memahami kebenaran spiritual. Untuk sampai pada kebenaran yg hakiki, pikiran dan aku/diri harus berhenti/padam.

[Hudoyo Hupudio]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...